Langsung ke konten utama

Telinga Tuhan

Aku hampir menyangka Tuhanku adalah kesunyian. Saat segala yang kuucapkan tak pernah sudi didengar orang, kesunyian justru betah berlama-lama mendengar aku mengoceh binal. Saat segala yang kuperbuat tak lagi membekaskan percaya di jiwa manusia, kesunyian, dengan tulus tanpa babibu percaya begitu saja.

Alangkah baiknya kesunyian...

Ia tak menolak kujadikan tempat melontar sumpah serapah, nafsu kebinatangan, celotehan sampah sampai noda-dosa yang menggunung. Ia diam saja. Menerimaku apa adanya. Siapa lagi yang sudi menjadi tempat pembuangan selain kesunyian?

Betapa sabarnya kesunyian...

Caci maki kulepas tak beraturan, intrik-intrik kutebar tak bertuan, birahi-birahi kusebar tak karuan, ia tak bergeming. Seolah membiarkanku meluapkan segala kotor meski ia tak mau aku jatuh tersungkur menjadi pesakitan.

Betapa eloknya kesunyian...

Saat di luar sana, orang beramai-ramai mengasah lidah demi mahir menjilat, menyuarakan suara-suara kebenaran beraroma kepalsuan, mencibir sana, mencibir sini, menggaung-agungkan hedonisme fatamorgana, ia lebih memilih diam. Padahal aku tahu, tahu setahu-tahunya, ia memiliki mulut yang jikalau ia mau, dengan suaranya, runtuhlah keangkuhan semeru.

Betapa romantisnya kesunyian...

Ketika jiwa-jiwa yang teraniaya diusir dari istana penguasa, kaki-kaki dekil peminta-minta dilarang berparas rupa, datanglah kesunyian dengan sejuk menyapa. Bahkan saat pipiku tak lagi sudi dialiri air mata kecewa, kesunyian rela menjadi pipi dan membiarkannya mengalir dengan mesra.

Bergegaslah keluar!
Bergumul dengan kesunyian.
Aku mulai yakin bahwa ia telinga Tuhan.

Depok, 26 Oktober 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumus Rindu

            Tanpa bermaksud mengerdilkan kekuatan super Dilan dalam menanggung beban berat sebuah rindu, sebagai mantan fisikawan abal-abal, saya akan mencoba merumuskan rindu dalam angka-angka untuk mengetahui seberapa berat sebuah rindu yang sedang kita pikul.             Seandainya rindu dapat diilmiah dan diejawantahkan dalam hitung-hitungan bilangan, saya akan katakan bahwa rumus dari rindu adalah jarak dikalikan waktu. Sebab rindu berbanding lurus dengan besaran rentang jarak dan waktu. Semakin jauh jarak seseorang dengan sosok yang dirindukan, semakin besar pula badai rindu yang melandanya. Dan semakin lama waktu terakhir kali berjumpa di antara keduanya, semakin berat pula rindu yang ditanggungnya. R = J x W . R adalah beban rindu yang ditanggung. Mengingat rindu dikaitkan dengan berat (begitu kata Dilan Sang Pakar Rindu), maka dapat dipastikan bahwa satuan ri...

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Wonderful Wonder Woman: Review

Ketika DC Extended Universe (DCEU) akan merilis film Wonder Woman, antusias publik biasa saja, tidak heboh. Menurunnya animo itu sebenarnya dapat dimaklumi. Sebab dua film garapan DCEU sebelumnya yang digadang-gadang akan meraup sukses besar, Batman v Superman dan Suicide Squad gagal menjawab ekspektasi besar dari pecinta film. Ini menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Wonder Woman seolah muncul tanpa beban, nothing to lose. Meski saya tergolong assabiqunal awwalun alias orang-orang yang termasuk dalam golongan awal menonton Gal Gadot (maksud saya Wonder Woman), saya baru sempat menuliskan reviewnya hari ini (kalau tulisan ini layak disebut sebagai ulasan film tersebut, sih). Dan ini akan menjadi tulisan kedua di blog ini yang berkonten ulasan film setelah sebelumnya saya sempat menulis review film Kung Fu Panda 3. Yang paling penting untuk diperhatikan dan diketahui, review ala saya mungkin sangat berbeda dengan tulisan-tulisan lain yang mereview sebuah film diluaran sana. Tulisan s...