Langsung ke konten utama

Rumbai Kelana

Jangan tanyakan aku menuju kemana, saat kakiku bebas berkelana.
Biarkan saja ia melangkah bebas sesukanya.

Lalu pada langkah-langkah berat yang tersisa, ia akan menemui lelah di ujung senja.
Berlutut menumpahkan air mata pada cakrawala.

Lepaslah, lepas!
Jangan pernah menoleh kepada cibiran di belakang.
Lebih baik terus melaju kencang.

Kalau takut kulitmu menghitam, jangan sekali-kali berkawan mentari.
Kalau takut pada gelap, jangan sekali-kali berhasrat cumbui rembulan.

Setiap gerak ada akibat.
Tapi terus bergerak tanpa terlalu takut terhadap akibat adalah keberanian yang hakikat yang mengundang ribu-ribu berkat.

Kelana ini tak selamanya.
Pada masanya, ia akan lenyap dengan sendirinya.
Pilihlah! Biarkan ia hanya menjadi sebatas cerita, atau mewarnainya dengan penuh makna.
Pelana kelanamu sepenuhnya kau kuasa.

Bekasi, 15 Desember 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumus Rindu

            Tanpa bermaksud mengerdilkan kekuatan super Dilan dalam menanggung beban berat sebuah rindu, sebagai mantan fisikawan abal-abal, saya akan mencoba merumuskan rindu dalam angka-angka untuk mengetahui seberapa berat sebuah rindu yang sedang kita pikul.             Seandainya rindu dapat diilmiah dan diejawantahkan dalam hitung-hitungan bilangan, saya akan katakan bahwa rumus dari rindu adalah jarak dikalikan waktu. Sebab rindu berbanding lurus dengan besaran rentang jarak dan waktu. Semakin jauh jarak seseorang dengan sosok yang dirindukan, semakin besar pula badai rindu yang melandanya. Dan semakin lama waktu terakhir kali berjumpa di antara keduanya, semakin berat pula rindu yang ditanggungnya. R = J x W . R adalah beban rindu yang ditanggung. Mengingat rindu dikaitkan dengan berat (begitu kata Dilan Sang Pakar Rindu), maka dapat dipastikan bahwa satuan ri...

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Wonderful Wonder Woman: Review

Ketika DC Extended Universe (DCEU) akan merilis film Wonder Woman, antusias publik biasa saja, tidak heboh. Menurunnya animo itu sebenarnya dapat dimaklumi. Sebab dua film garapan DCEU sebelumnya yang digadang-gadang akan meraup sukses besar, Batman v Superman dan Suicide Squad gagal menjawab ekspektasi besar dari pecinta film. Ini menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Wonder Woman seolah muncul tanpa beban, nothing to lose. Meski saya tergolong assabiqunal awwalun alias orang-orang yang termasuk dalam golongan awal menonton Gal Gadot (maksud saya Wonder Woman), saya baru sempat menuliskan reviewnya hari ini (kalau tulisan ini layak disebut sebagai ulasan film tersebut, sih). Dan ini akan menjadi tulisan kedua di blog ini yang berkonten ulasan film setelah sebelumnya saya sempat menulis review film Kung Fu Panda 3. Yang paling penting untuk diperhatikan dan diketahui, review ala saya mungkin sangat berbeda dengan tulisan-tulisan lain yang mereview sebuah film diluaran sana. Tulisan s...