Langsung ke konten utama

Dimana?

Kanjeng Nabi,
Diberangkatkan takdir-ditopangkan angin
aku sampai di depan pusara yang juga rumahmu.
Assalaamualaika ya Rasulallah
Assalaamualaika ya Rasulallah
Assalaamualaika ya Rasulallah

Kutengok di balik jeruji besi
Kuintip dari sela sela bahu
Tak kudapati dirimu

Kanjeng Nabi,
Bukankah kau selalu ada dan menjawab setiap orang yang merayakan salam atasmu?
Dan bukankah di seluruh bumi tiap-tiap detik senantiasa merupakan perayaan salam untukmu?
Lalu sekarang engkau sedang di mana?
Apakah engkau, Kanjeng Nabi, sedang pergi ke Afrika sana, membalas salam yang dikumandangkan seluruh hewan di hutan belantara?
Atau mungkin engkau sedang ke Indonesia, ke negeriku, menyambangi bibir-bibir yang mengering karena miskin namun selalu basah oleh ucapan salamnya atasmu?

Atau di mana?
Kubayangkan, betapa sibuknya engkau, Kanjeng Nabi.

Aku di depan rumahmu.
Menunggumu pulang dari manapun. Menanti balasan salamku padamu.
Assalaamualaika ya Rasulallah.
Assalaamualaika ya Rasulallah.
Assalaamualaika ya Rasulallah.

Ihram, 17 Maret 2019. Di atas roda bus Madinah-Mekkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Rumus Rindu

            Tanpa bermaksud mengerdilkan kekuatan super Dilan dalam menanggung beban berat sebuah rindu, sebagai mantan fisikawan abal-abal, saya akan mencoba merumuskan rindu dalam angka-angka untuk mengetahui seberapa berat sebuah rindu yang sedang kita pikul.             Seandainya rindu dapat diilmiah dan diejawantahkan dalam hitung-hitungan bilangan, saya akan katakan bahwa rumus dari rindu adalah jarak dikalikan waktu. Sebab rindu berbanding lurus dengan besaran rentang jarak dan waktu. Semakin jauh jarak seseorang dengan sosok yang dirindukan, semakin besar pula badai rindu yang melandanya. Dan semakin lama waktu terakhir kali berjumpa di antara keduanya, semakin berat pula rindu yang ditanggungnya. R = J x W . R adalah beban rindu yang ditanggung. Mengingat rindu dikaitkan dengan berat (begitu kata Dilan Sang Pakar Rindu), maka dapat dipastikan bahwa satuan ri...

Chi, Yin Yang dan Kung Fu Panda

    Saya baru saja rampung menonton film Kung Fu Panda 3 (2016) tanpa pernah menonton dua seri sebelumnya. Entahlah, mungkin menurut sebagian orang, terutama filmholic, saya tergolong telat baru menontonnya sekarang. Tapi saya tidak risau. Saya hanya akan mencoba sok ahli menjadi pengulas film pada tulisan kali ini. Film yang akan saya ulas adalah Kung Fu Panda 3 yang baru saya nikmati beberapa jam yang lalu.     Saya kategorikan film ini sebagai SU alias film yang dapat ditonton dan dinikmati oleh semua umur. Kakek, nenek, buyut, tua, muda, balita, bapatta, batita, baduta, basata semua bisa menikmati film ini (tentu dengan cara dan interpretasi yang berbeda-beda).     Kenapa saya mengatakan film ini bisa dikonsumsi semua umur? Bukan! Saya tidak melabeli SU karena film ini berkemasan kartun (entah istilahnya apa untuk film kartun yang penggarapan teknologinya hidup seperti itu). Tapi lebih didasari oleh nilai-nilai kearifan yang terkandung ...