Langsung ke konten utama

Postingan

Telinga Tuhan

Aku hampir menyangka Tuhanku adalah kesunyian. Saat segala yang kuucapkan tak pernah sudi didengar orang, kesunyian justru betah berlama-lama mendengar aku mengoceh binal. Saat segala yang kuperbuat tak lagi membekaskan percaya di jiwa manusia, kesunyian, dengan tulus tanpa babibu percaya begitu saja. Alangkah baiknya kesunyian... Ia tak menolak kujadikan tempat melontar sumpah serapah, nafsu kebinatangan, celotehan sampah sampai noda-dosa yang menggunung. Ia diam saja. Menerimaku apa adanya. Siapa lagi yang sudi menjadi tempat pembuangan selain kesunyian? Betapa sabarnya kesunyian... Caci maki kulepas tak beraturan, intrik-intrik kutebar tak bertuan, birahi-birahi kusebar tak karuan, ia tak bergeming. Seolah membiarkanku meluapkan segala kotor meski ia tak mau aku jatuh tersungkur menjadi pesakitan. Betapa eloknya kesunyian... Saat di luar sana, orang beramai-ramai mengasah lidah demi mahir menjilat, menyuarakan suara-suara kebenaran beraroma kepalsuan, mencibir sana, mencibir s...

Indonesia Kecil

Pagi ini sebenarnya berjalan wajar seperti sebelum-sebelumnya. Mentari masih terbit dari timur, ladang sawah dijejali petani, jalanan mulai dipenuhi lalu lalang kendaran bermotor, kicau burung bersahutan dari balik daun pepohonan. Sungguh, ini rutinitas semesta yang sama seperti yang sudah-sudah. Ketidakwajaran hanya terjadi di rumahku. Hari ini, tepat seminggu lalu, aku baru merampungkan tiga tahun belajarku di bangku SMA. Jauh-jauh hari sebelumnya, kami -aku dan keluarga- sepakat bahwa aku, si bungsu, akan melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi bonafid Eropa. Ini sebuah kebanggaan tersendiri bagiku. Sebab diantara 9 anak bapak, hanya diriku yang mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negeri. Aku masih ingat betul, saat bapak menepuk pundakku dengan bangga seraya berkata, “Kamu akan jadi anak bapak yang paling top.” Ada yang bilang,  Jangan bermimpi terlalu tinggi. Sebab jika tak kesampaian, sakitnya tak terperi. Maka bermimpilah sewajarnya saja.  It...

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Orang-orang Berwajah Rembulan

Pada orang-orang yang wajahnya rembulan, aku selalu rindu tak karuan. Tanganku menggapai-gapai, ingin merasakan cahayanya juga, meski beberapa gelintir saja. Pada orang-orang yang wajahnya rembulan, aku selalu merasakan kesejukan. Lisannya halus, tutur katanya kedamaian, perangainya tenang, seperti tak ada api dalam raganya. Pada orang-orang yang wajahnya rembulan, aku selalu menjadikannya pelarian. Tempat lari dari kesemerawutan, kebingungan dan kesewenang-wenangan. Pada orang-orang yang wajahnya rembulan, aku melihat purnama dalam hatinya. Purnama yang terangnya menenggelamkan cahaya surya. Purnama yang datang dari Tsaniyya Al Wada. Purnama yang wajib kita syukuri kehadirannya. Pada orang-orang yang wajahnya rembulan, aku melihat senyum Tuhan. Depok, 25 Oktober 2016.

Kita yang Ateis

Tempo hari, saya menulis status di akun facebook, "Yang paling berhak menjadi ateis hanya Tuhan." Seorang teman baik di dunia maya yang juga berteman baik dengan saya di dunia nyata menanggapi postingan itu. "Paling berhak apa satu-satunya yang berhak?" Begini. Saya menggiring pemahan teman saya itu dengan ayat "Laa ikrooha fiddiin". Jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Saya tidak sedang berusaha menjadi ahli tafsir dan tidak pula sedang memanfaatkan ayat untuk hal-hal berbau politik atau bahasa populernya, politisasi ayat. Tidak ada paksaan dalam beragama. Bahkan dalam ayat lain yang menurut saya masih senada menyebutkan, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Ayat terakhir asbabunnuzulnya adalah ketika Rasulullah ditawari kaum kafir untuk saling 'berbagi' agama. Kaum kafir meminta Rasulullah dan umatnya agar mengerjakan ritus agama kafirin seharian ini, esok harinya, sebagai balas budi, gantian kaum kafir yang ikut-ikutan melakukan ritual uma...

Serdadu Hujan

Semalam turun hujan. Petir saling sahut menggelegar. Langit menampilkan blitz kilat berkali-kali, seperti ada sesi pemotretan sepasang kekasih yang memadu cinta di nirwana sana. Angka di kalender sudah berganti, tapi hujan belum selesai improvisasi diri. Setidaknya sampai sore menjelang maghrib, hujan masih jatuh ke bumi. Aku kebetulan berkunjung ke masjid yang berjarak selemparan batu dari tempatku singgah. Sengaja berangkat lebih awal agar bisa melihat orang-orang memancing di tambak timur masjid. Sebatang rokok kunyalakan. Cess. Hujan benar-benar menjadi rahmat bagi semesta. Merokokpun jadi terasa beda. Seperti ada manis-manisnya. Aku memutuskan untuk melakukan meditasi konsentrasi. Diam tanpa bereaksi terhadap sikap semesta kepadaku. Kawanan cicak yang biasanya memenuhi langit-langit serambi masjid tak kujumpai malam itu. Segera aku tahu ke mana perginya. Mereka sedang mencari makan untuk perbaikan gizi. Sebab di sekitaran masjid, laron-laron mulai bermunculan mencari cahaya b...