Langsung ke konten utama

Postingan

Buku, Isi dan Barokah

Tempo hari, saya sengaja menceburkan diri di keramaian Pasar Senen. Bersama seorang teman, saya bermaksud hunting buku. Sebab menurut teman saya -- juga riset yang saya lakukan via googling -- Pasar Senen menjadi salah satu destinasi menarik yang menjajakan buku-buku murah. Semacam surga bagi mahasiswa kutu buku berkantong tipis. Berangkatlah saya siang itu menerobos kemacetan Ibu kota. Satu demi satu, tiap kios saya masuki. Sensasinya seperti blusukan. Dan kabar baiknya, dari blusukan itu, saya jadi punya persangkaan baik terhadap penjual buku di sana. Pastilah penjual-penjual buku itu orang pandai semua. Minimal kutu buku. Bagaimana tidak, mereka hampir mengenal seluruh nama-nama penulis, judul dan genre buku, baik luar maupun dalam negeri dengan sangat baik. Luar kepala. Luar biasa. Kekaguman itu sirna begitu saja saat belakangan saya tahu ternyata mereka juga hafal luar kepala tempat -- sekaligus titik koordinat -- buku-buku tersebut. Ah, berarti mereka hafal semua itu hanya un...

Anakku di Sekolah Kristen

Sore hari itu normal. Berjalan wajar. Tidak ada hal luar biasa atau luar wajar atau luar normal. Aku duduk malas di kursi warung seberang jalan. Kopi kapal api item plus susu mengepul-epulkan asap. Menebar aroma sedap. Sebatang filter tersulut. Klop. Seorang gadis, masih 6 tahun, menyeberang jalan tanpa tengok kanan kiri -- sambil berlari. Ia berhenti persis di depanku. Berhenti begitu saja. Mematung. Matanya menyisir keseluruhanku. Dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seperti detektor saja. Diamatinya tubuhku, satu satu. Sebelum akhirnya tatap penuh selidik itu berhenti di tangan kiriku yang jemarinya mengapit rokok. "Om, orang Islam itu kalau merokok, berarti Kristen," telunjuknya menudingku seolah-olah aku maling ayam. Aku diam. Aku paham maksud kata-katanya. Seolah tidak peduli, aku justru mendemonstrasikan cara menikmati rokok di hadapannya. Kuhisap dalam-dalam, kutahan sekian detik lalu melepaskan asap-asap tebal di luaran. "Siapa yang bilang?" "Bu ...

Amnesia II

Lalu kau menawarkan rindu Yang urung saat tanganku maju. Aku mati dua kali Hidup sekali lupa sama sekali. Mendekat, jalanku. Menjauh, larimu. Kau seperti tak jemu Mengurungku dalam kubang rindu. Di persimpangan jalan Tempat kita berhenti bersamaan. Lidahmu menjulur belati. "Kau siapa? Aku benar-benar lupa." Hujammu, menusukku. Aku tak kuasa hidup lagi. Pasar Baru, 29 Oktober 2016.

Pemuda Hari Ini

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Rumusan Sumpah Pemuda yang ditulis oleh Muhammad Yamin itu menjadi salah satu tonggak penting kemerdekaan Indonesia. Dalam moment Sumpah Pemuda juga-lah, lagu Indonesia Raya-nya WR Soepratman pertama kali dikumandangkan. Rumusan yang ditulis dengan ejaan Van Ophuijsen itu melecut nasionalisme para pemuda pra-kemerdekaan. Dari peristiwa monumental itu ke hari ini, sudah berjalan 88 tahun persis. Pertanyaannya, masih adakah nasionalisme di dalam jiwa pemuda hari ini? Perihal pemuda, kata-kata Soekarno selalu paling bertenaga. "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Pertanyaannya, bisakah 10 pemuda hari ini meng...

Amnesia

Aku hampir lupa cara bernafas. Kau menjelma oksigen lepas. Aku hampir lupa cara berpijak. Kau berdiri di sisiku bagai tonggak. Aku hampir lupa cara merindu. Kau mendobrak pintu menggebu-gebu. Aku hampir lupa cara jatuh cinta. Kau mendorongku keras hingga aku terjatuh di sana. Kau siapa? Aku benar-benar lupa. Depok, 27 Oktober 2016.

Doktrinisasi Diri

Seorang kawan yang baik hati bertanya kepada saya tempo hari. "Bagaimana caranya agar kita gemar sholat?" Pertanyaan yang sebenarnya amat sederhana dan mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. Tapi percayalah, jawabannya amat sukar dan tidak sesederhana yang kalian bayangkan. Maka saya terdiam sejenak sembari sedikit memutar otak. Kawan saya sepertinya butuh jawaban cepat. Segera dikeluarkanlah gadget di balik saku celana jins-nya. Browsing bagaimana cara agar suka sholat? Selang beberapa saat, dia mencak-mencak. Mengutuk artikel yang dibacanya di internet. "Kebiasaan sholat seseorang tergantung oleh orang tuanya. Jika orang tuanya tidak pernah memberikan contoh dan memerintahkan sholat kepada anaknya, besar kemungkinan anaknya akan tumbuh sebagai orang yang tidak gemar sholat." Begitu kira-kira bunyi artikel yang tertulis. "Salah, artikel ini salah," kata kawan saya, "Orang tua saya tidak seperti itu. Bahkan bapak saya bilang, bapak lebih suk...

Telinga Tuhan

Aku hampir menyangka Tuhanku adalah kesunyian. Saat segala yang kuucapkan tak pernah sudi didengar orang, kesunyian justru betah berlama-lama mendengar aku mengoceh binal. Saat segala yang kuperbuat tak lagi membekaskan percaya di jiwa manusia, kesunyian, dengan tulus tanpa babibu percaya begitu saja. Alangkah baiknya kesunyian... Ia tak menolak kujadikan tempat melontar sumpah serapah, nafsu kebinatangan, celotehan sampah sampai noda-dosa yang menggunung. Ia diam saja. Menerimaku apa adanya. Siapa lagi yang sudi menjadi tempat pembuangan selain kesunyian? Betapa sabarnya kesunyian... Caci maki kulepas tak beraturan, intrik-intrik kutebar tak bertuan, birahi-birahi kusebar tak karuan, ia tak bergeming. Seolah membiarkanku meluapkan segala kotor meski ia tak mau aku jatuh tersungkur menjadi pesakitan. Betapa eloknya kesunyian... Saat di luar sana, orang beramai-ramai mengasah lidah demi mahir menjilat, menyuarakan suara-suara kebenaran beraroma kepalsuan, mencibir sana, mencibir s...