Langsung ke konten utama

Cahaya

Meraba cahaya
Mengenal cahaya
  Mencari cahaya
   Mengejar cahaya
  Membaur cahaya
Melebur cahaya
Menjadi cahaya

   Menjadi cahaya
  Menjadi nyala
Menerangi cahaya
Menyala-nyala

  Mencahaya
Menyala
Nyata-nyata
Nyala-nyala
Nyala nyata cahaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumus Rindu

            Tanpa bermaksud mengerdilkan kekuatan super Dilan dalam menanggung beban berat sebuah rindu, sebagai mantan fisikawan abal-abal, saya akan mencoba merumuskan rindu dalam angka-angka untuk mengetahui seberapa berat sebuah rindu yang sedang kita pikul.             Seandainya rindu dapat diilmiah dan diejawantahkan dalam hitung-hitungan bilangan, saya akan katakan bahwa rumus dari rindu adalah jarak dikalikan waktu. Sebab rindu berbanding lurus dengan besaran rentang jarak dan waktu. Semakin jauh jarak seseorang dengan sosok yang dirindukan, semakin besar pula badai rindu yang melandanya. Dan semakin lama waktu terakhir kali berjumpa di antara keduanya, semakin berat pula rindu yang ditanggungnya. R = J x W . R adalah beban rindu yang ditanggung. Mengingat rindu dikaitkan dengan berat (begitu kata Dilan Sang Pakar Rindu), maka dapat dipastikan bahwa satuan ri...

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Harga Diri di Hadapan Tuhan

Konon di akhirat kelak, saat hari penghakiman, kita akan dicecar berbagai pertanyaan dan dimintai pertanggungjawaban mengenai segala perbuatan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Bukan mulut dan lisan kita yang memberi persaksian, melainkan anggota tubuh kita yang lain: tangan, kaki dan sejenisnya. Mulut kita bisu (dibisukan). Tangan kita yang 'berbicara'. Saya sempat berkelakar soal ini. Zaman sekarang, di era medsos, sesungguhnya hal itu sudah terjadi. Mulut kita diam, tapi tangan kita yang 'ngomong' lewat status di medsos. Curhat di medsos, doa di medsos, gosip di medsos, mengumpat di medsos. Barangkali, kelak Facebook dan platform sosia medial juga akan dicecar pertanyaan oleh Tuhan, dimintai persaksian tentang dosa-dosa akun digital di dalamnya. Wallahu a'lam. Sosmed bisa menjadi dunia alternatif bagi seseorang. Sosmed tidak selalu (kalau tidak bisa dikatakan tidak sama sekali) merupakan cerminan asli watak dan karakter seseorang. Ia, sebagaimana yang ...