Langsung ke konten utama

Dilematika Istighfar dan Tafakkur

    Jujur, dalam banyak hal, saya lebih suka menyendiri daripada terjebak dalam keramaian. Saya lebih menyukai berinteraksi dengan kehampaan ketimbang dengan celoteh orang. Ada banyak hal yang bisa diselesaikan dengan merenung daripada diceritakan kepada orang lain.

    Renungan, kontemplasi atau tafakkur bisa menenangkan pikiran, menjernihkan perasaan dan menstabilkan emosi. Seolah-olah kita berdiskusi dengan Tuhan. Akrab tanpa sekat.

    Ada sebuah hadits qudsi yang berbunyi, "Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu terhadapKu". Maka, dalam perenungan, saya seringkali berinteraksi dengan Tuhan yang mempunyai banyak karakter. Kadang saya menyangka Tuhan Maha Baik, Maha Bercanda, Maha Lucu, Maha Penyayang dan lain lain.

    Persangkaan saya terhadap Tuhan kerap kali sebagai pelampiasan atas persoalan yang melanda. Contoh, saya sedang dikecewakan wanita dan ia pergi meninggalkan saya. Maka saya akan merenung dan berprasangka bahwa Tuhan Maha Baik, sehingga nantinya Tuhan pasti akan mencarikan wanita lain yang lebih dan paling bisa membahagiakan saya. Sekejap kilat, kekecewaan saya terhadap wanita itu sirna. Lenyap tak tersisa. Menjadi semacam butiran debu yang menggelitik bulu hidung belaka. Watchhiii! Setelah bersin, ia musnah.

    Maka setiap kali selesai melakukan dosa, saya langsung berprasangka bahwa Tuhan Maha Pengampun. Setiap kali ada persoalan apapun, Tuhan saya jadikan sebagai jawaban untuk menutupnya.

    Memang, sesekali pikiran saya liar. Bahkan tidak jarang menembus rambu-rambu etika Tuhan. Perenungan memang harus diimbangi dengan kematangan ilmu. Terutama ilmu etika alias tasawuf.
Dan saya rasa, saya masih nol besar perihal itu. Namun begitu, saya tetap tidak berhenti merenung dan bertafakkur.

    Sampai pada suatu ketika, saya tidak sengaja membaca kalam hikmah via twitter yang secara bebas berbunyi begini, "Jangan terlalu banyak berpikir, tapi perbanyaklah meminta ampun (istighfar). Karena Tuhan akan membuka pintu-pintu dengan istighfar, tidak dengan tafakkur (kontemplasi)".

    Jleb. Saya langsung tertohok. Seperti dihantam godam raksasa. Kalimat itu muncul di time line tanpa dosa begitu saja. Kemunculannya seolah-seolah memang diperuntukkan untuk memperingatkan saya.

    Saya malah merenungi twit hikmah itu. Lama saya merenung, rasa-rasanya saya harus mengimbangi tafakkur-tafakkur saya dengan istighfar. Sebab pikiran itu tak terbatas dan bebas. Dikhawatirkan, pikiran kita tanpa sadar terjerumus terhadap hal yang tidak-tidak seperti kemusyrikan dll. Naudzubillah.

    Alangkah bijaknya jika saya kemudian mau banyak beristighfar sembari tidak berhenti bertafakkur. Maka saya akan mencoba berlatih membiasakan diri meminta ampunan.

    Keputusan sudah saya buat: tetap bertafakkur dan berusaha memperbanyak beristighfar. Saya kira, Tuhan juga setuju dengan ide saya kali ini.

    Astaghfirullahal'adzim.

Catatan tambahan: tulisannya agak morat-marit. Saya menulisnya dalam keadaan ngantuk di atas tempat duduk KA Jayabaya Jakarta-Malang. Maaf jika ada kesalahan di sana-sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumus Rindu

            Tanpa bermaksud mengerdilkan kekuatan super Dilan dalam menanggung beban berat sebuah rindu, sebagai mantan fisikawan abal-abal, saya akan mencoba merumuskan rindu dalam angka-angka untuk mengetahui seberapa berat sebuah rindu yang sedang kita pikul.             Seandainya rindu dapat diilmiah dan diejawantahkan dalam hitung-hitungan bilangan, saya akan katakan bahwa rumus dari rindu adalah jarak dikalikan waktu. Sebab rindu berbanding lurus dengan besaran rentang jarak dan waktu. Semakin jauh jarak seseorang dengan sosok yang dirindukan, semakin besar pula badai rindu yang melandanya. Dan semakin lama waktu terakhir kali berjumpa di antara keduanya, semakin berat pula rindu yang ditanggungnya. R = J x W . R adalah beban rindu yang ditanggung. Mengingat rindu dikaitkan dengan berat (begitu kata Dilan Sang Pakar Rindu), maka dapat dipastikan bahwa satuan ri...

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Harga Diri di Hadapan Tuhan

Konon di akhirat kelak, saat hari penghakiman, kita akan dicecar berbagai pertanyaan dan dimintai pertanggungjawaban mengenai segala perbuatan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Bukan mulut dan lisan kita yang memberi persaksian, melainkan anggota tubuh kita yang lain: tangan, kaki dan sejenisnya. Mulut kita bisu (dibisukan). Tangan kita yang 'berbicara'. Saya sempat berkelakar soal ini. Zaman sekarang, di era medsos, sesungguhnya hal itu sudah terjadi. Mulut kita diam, tapi tangan kita yang 'ngomong' lewat status di medsos. Curhat di medsos, doa di medsos, gosip di medsos, mengumpat di medsos. Barangkali, kelak Facebook dan platform sosia medial juga akan dicecar pertanyaan oleh Tuhan, dimintai persaksian tentang dosa-dosa akun digital di dalamnya. Wallahu a'lam. Sosmed bisa menjadi dunia alternatif bagi seseorang. Sosmed tidak selalu (kalau tidak bisa dikatakan tidak sama sekali) merupakan cerminan asli watak dan karakter seseorang. Ia, sebagaimana yang ...