Langsung ke konten utama

Pencitraan Hobi Kita Bersama

    Kalau saat ini anda mendengar kata 'Pencitraan,' pasti sosok Jokowi langsung melintas di benak anda. Ya, Pak Jokowi, Presiden kita yang njawani tur lugu itu bisa kita anugerahi gelar Bapak Pencitraan berkat jasanya mempopulerkan kata 'pencitraan' di telinga kita.

    Dulu, saat masa-masa kampanye, gaya blusukan Jokowi ramai-ramai dituduh sebagai pencitraan. Jokowi baik sedikit dan beritanya sampai ke telinga publik, langsung divonis pencitraan. Segala kebaikan yang dilakukan Jokowi dianggap pencitraan belaka.

    Saya bingung juga, sebenernya yang diinginkan rakyat ini apa, sih? Ada orang baik, dicela. Ada orang jelek, dimassa.
Hei, Rakyat Indonesia. Kalian sehat?

    Baik-lah.
    Citra itu secara harfiah adalah gambaran atau kesan. Pencitraan berarti penggambaran atau pantulan kesan. Lihat? Apa yang salah dengan pencitraan. Something wrong? I think not.

    Orang-orang yang kurang mengerti cara berbaik sangka biasanya mengartikan pencitraan sebagai kemunafikan, hipokrit atau yang lainnya. Padahal jika kita melihat arti harfiahnya, tidak akan kita jumpai unsur-unsur seperti hipokrit dalam pencitraan. Entah bagaimana sejarahnya, tiba-tiba di negara ini, pencitraan difungsikan sebagai kata yang memiliki makna tidak baik.

    Saya lebih suka mengartikan pencitraan sebagai pamer. Pamer adalah menunjukkan kesan. Sebelas dua belas dengan pencitraan.

    Pertanyaannya sekarang adalah, pencitraan itu baik atau buruk? Sederhana saja. Kalau pencitraan yang dipamerkan itu adalah sebuah kejujuran, it's ok. Tapi kalau pencitraan yang ditonjolkan adalah kebohongan, barulah ini termasuk kategori pencitraan yang tidak beres.

    Dan hemat saya, seorang pemimpin sangat dianjurkan untuk melakukan pencitraan dengan tanda kutip "Pencitraan yang jujur." Alasannya simpel saja, yakni untuk menenangkan rakyat. Saya kasih contoh, Jokowi blusukan di pasar, menyapa penjual dan mengganti infrastruktur pasar yang sudah tidak layak pakai. Hal semacam ini saya rasa perlu diliput dan diberitakan agar rakyat merasa nyaman dengan adanya pemimpin yang perhatian. O, jadi pak Jokowi itu bener-bener mau peduli sama rakyat kecil, ya. Jika rakyat sudah nyaman dengan pemimpinnya, selanjutnya akan terlahir kepercayaan. Jika sudah percaya, apalagi saling percaya, apapun cobaan yang datang menghempas nahkoda nusantara ini, akan kita selesaikan bersama melalui sinergi baik rakyat dan pemimpinnya. Pemimpin bagai mendapat motivasi ekstra sebab ada rakyat yang percaya kepada dia yang siap memback-up tindak-tanduknya. Rakyat tenang sebab percaya bahwa pemimpinnya adalah sosok yang dapat dipercaya. Segala polemik akan sirna. Selesai.

    Tapi tetap dengan catatan, pencitraan itu adalah pencitraan yang benar adanya. Bukan kebohongan terselubung di balik fakta.

    Masih belum percaya kalau pencitraan yang jujur adalab sebuah kebaikan? Baiklah, saya ajak anda melihat lebih jauh.

    Tanpa kita sadari, hidup kita penuh pencitraan. Full. Tidak ada hari berganti tanpa pencitraan. Pasti.

    Kalian punya akun facebook. Kalian menulis status, lagi shalat malam. Kalian pelaku pencitraan. Kalian posting foto makan di restauran, upload. Kalian pelaku pencitraan. Kalian menulis status dengan gaya akademis, kalian pamer ilmu. Kalian pelaku pencitraan. Kenapa waktu kita berbuat dosa tak pernah muncul di status facebook kita? Kenapa? Ya, jawabannya, itu bisa menodai citra kita. Maka sekali lagi, kalian adalah pelaku pencitraan.

    Lalu, apa mereka salah?
    Tidak, selama itu pencitraan jujur dan benar. Yang tidak jujur itu contohnya seperti kalian upload foto di restaurant bersama teman-teman kalian dan memberi caption "Kemarin malam, waktu nraktir temen-temen SMP". Padahal faktanya tiap anak patungan 20 ribu.

    Jelas, ya?
    Mari budayakan berbaik sangka. Meskipun toh sangkaan baik kita nantinya keliru, tetaplah berbaik sangka. Percayalah, sangkaan baik yang kita lakukan akan memantul kepada yang kita sangka dan pada akhirnya membuat ia benar-benar baik sesuai persangkaan baik kita.

    Yang pencitraan biarlah pencitraan. Kalau kita tidak bisa membuat citra baik untuk diri kita, tak usah-lah merecoki citra seseorang yang sudah baik. Apa untungnya, coba?

    Btw, saya nulis blog dan menceramahi kalian lewat postingan ini juga termasuk pencitraan, lho.

    Masalah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumus Rindu

            Tanpa bermaksud mengerdilkan kekuatan super Dilan dalam menanggung beban berat sebuah rindu, sebagai mantan fisikawan abal-abal, saya akan mencoba merumuskan rindu dalam angka-angka untuk mengetahui seberapa berat sebuah rindu yang sedang kita pikul.             Seandainya rindu dapat diilmiah dan diejawantahkan dalam hitung-hitungan bilangan, saya akan katakan bahwa rumus dari rindu adalah jarak dikalikan waktu. Sebab rindu berbanding lurus dengan besaran rentang jarak dan waktu. Semakin jauh jarak seseorang dengan sosok yang dirindukan, semakin besar pula badai rindu yang melandanya. Dan semakin lama waktu terakhir kali berjumpa di antara keduanya, semakin berat pula rindu yang ditanggungnya. R = J x W . R adalah beban rindu yang ditanggung. Mengingat rindu dikaitkan dengan berat (begitu kata Dilan Sang Pakar Rindu), maka dapat dipastikan bahwa satuan ri...

Belajar Tahu Diri dari Gus Miek

"Yang penting kita harus tahu diri. Yaitu menanamkan robbana dholamna anfusana di dalam hati kita masing-masing." Gus Miek. Siapa yang tidak kenal Gus Miek? Mulai dari bromocorah, perempuan penjaja birahi, lady disco, pemabuk, pencuri, maling kelas teri, bandit kelas kakap, tukang becak, pejabat, santri hingga kiai hampir tahu dan mengenal Gus Miek. Gelar yang mereka sematkan kepada Gus Miek juga beragam. Waliyullah, kyai, gus, orang antik dan lain-lain. Gus Miek memang dikaruniai beberapa kelebihan oleh Tuhan. Bahkan ada yang percaya, begitu lahir dunia, Gus Miek sudah diangkat menjadi waliyullah. KekasihNya. Maka tanyakanlah pada setiap sarkub alias sarjana kuburan tentang cerita-cerita Gus Miek. Mereka akan bergairah bercerita beragam kisah seputar keistimewaan Gus Miek yang tidak habis dikisahkan semalam suntuk meski ditemani kepul kopi hitam panas dan gorengan hangat sepiring. Orang terlanjur melihat Gus Miek sebagai individu yang memiliki linuwih. Gus Miek adalah su...

Yai Din Ploso: Kyai Penggiat Jamaah

    Syahdan, dahulu kala ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Airlangga. Kerajaan itu bernama Kahuripan. Prabu Airlangga yang sudah memasuki usia senja berkeinginan untuk menjadi pertapa. Ia berniat meninggalkan kerajaan Kahuripan yang sudah dipimpinnya selama bertahun-tahun. Sebelum benar-benar menjadi pertapa, ia berkeinginan mewariskan tahta kerajaan Kahuripan kepada penerusnya. Sayang, dari permaisurinya, ia hanya dikaruniai seorang putri bernama Sanggramawijaya -sebelum mengganti nama dan lebih dikenal sebagai Dewi Kilisuci. Sanggramawijaya tidak berkeinginan memimpin kerajaan Kahuripan. Ia juga memilih menjadi pertapa dan menolak untuk meneruskan tonggak estafet kepemimpinan yang ditawarkan ayahandanya. Akhirnya Prabu Airlangga memberikan tahtanya kepada dua orang putra dari selirnya, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Namun tidak mungkin jika kerajaan ini dipimpin oleh dua raja. Tidak ada dua matahari dalam satu langit. Prabu Airla...